1/24/12

Mereka Bilang

Terkadang saya kangen jadi anak rumahan. Dikhawatirin sama Mamah dan Bapak. Ditelfonin harus cepat pulang sebelum magrib. Tapi disini hal itu gak berlaku, anak perempuan jalan sendirian menuju kosan larut malam mungkin biasa.

Kalau kata teman saya, mitseh

mereka bilang itu komitmen.

1/15/12

What He Said

"Dalam city planning itu harus direncanakan juga ruang untuk PKL bukan cuma mall atau supermarket. Masa yang gede dikasih lahan yang kecil ga."

-Ir. Joko Widodo


Agaknya quote ini akan selalu saya ingat. Anyway I'm gonna have meet and greet session with him \m/

1/11/12

Satu dan Dua

Wah template gmail baru and so does blogger. Belum terbiasa dan masih agak kagok dengan background yang putih dan kesimpelannya. Anyway, sekarang saya balik lagi ke habitat di Bandung. Balik ke rutinitas dimana semua dilakukan serba sendiri, tidak ada teriakan "Ma..aku lapeer" atau "Rese banget sih lo dek". Rasanya sepi, dan masih ada sekitar 2 tahun lagi saya harus tinggal di kota yang katanya kota kembang. Di kota ini tidak terlalu banyak cerita yang menarik paling sekedar dunia perkuliahan. Berbeda dengan ibukota yang punya segudang cerita dan minta untuk diceritakan bukan tersimpan sebagai seonggok memori di bagian  hippocampus otak.

Satu
Ini cerita pertama. Cerita tentang saya dan angkutan umum di suatu siang yang terik. Ya, jadi intinya saya naik angkutan umum dan seperti biasa mobil diam karena macet. Sambil menunggu, masuklah pengamen dengan gaya punk. Tak ada yang menggubris. Akhirnya angkotpun jalan dan kemudian masuk kembali pengamen yang lain dan dengan gaya yang sama, punk. Celana sobek-sobek plus tambalan sana sini, sepatu boots, rambuk mohawk warna warni, baju ketek, yaa pokoknya ala punk lah. Dan kembali tak digubris. Kemudian angkot jalan kembali, untuk yang ketiga kalinya masuk kembali pengamen bergaya sama tapi tentunya beda wajah. What on earth ?!?!?!? Baru beberapa meter angkot jalan tapi sudah 3 pengamen keluar masuk. Bukannya saya tidak peduli atau kasihan atau apa tapi bagaimana kalau anda sedang duduk manis tiba-tiba pengamen tersebut menatap anda dengan senyum-senyum ? Bayangkan saja sendiri. 

Masih dengan angkot. Kali ini saya tertidur di angkot. Sudah kebiasaan kalau perjalanan jauh pasti ketiduran hahaha. Dan ketika bangun semua penumpang marah-marah, ngedumel karena si pak sopir berada di lajur macet. Mungkin efek cuaca yang panas juga mangkannya semua penumpang ikutan 'panas'


semoga abang angkotnya ga tulalit kaya tulisannya :p


Cerita tersebut terjadinya pada siang hari. Bagaimana kalau malam ? Anda baca saja koran atau website berita, pastinya sedang heboh berita pemerkosaan di angkutan umum.

Oh akhirnya saya tahu..

Mengapa banyak orang lebih memilih menggunakan pribadi
Mengapa makin banyak orang menggunakan kredit motor
Mengapa kaum expat tidak mau menggunakan transportasi publik
Mengapa akan tampak lebih cool jika kaum lelaki mengajak perempuannya naik mobil (?) Yaa daripada naik kopaja ? ~Saya sih naik apa aja boleh yang penting dibayarin ha ha ha ha :p

dan tentunya mengapa mengapa yang lainnya.

Dua
Ini cerita kedua. Bukan tentang angkot atau punk rock. Ini tentang E-KTP. Jadi, intinya hari Sabtu saya kebagian membuat E-KTP. Dari pengalaman teman-teman saya, ngurus e-ktp itu sebentar cuma 5 menit kok. Oh tapi jangan salah, hal berbeda terjadi di kelurahan saya. Pembuatan e-ktp sampai jam 4 subuh. Ya, subuh bukan sore. Dan saya baru kebagian foto jam stengah 2 pagi. Ini administrasi teraneh, terlucu, terburuk, dan ter- lainnya. Sistem yang terjadi sangat kacau dan akhirnya menumpuk di satu hari. Dan yang lebih kacaunya lagi, kok ada ya ibu-ibu pakai mini dress jam setengah 12 malam (?) Kalaupun ingin fotonya tampak bagus tapi ya ga pakai mini dress tengah malem juga bu!

Mungkin kalau saya tidak dikejar waktu untuk balik ke Bandung, masih akan ada cerita-cerita lainnya. So, what's your story then ?

12/18/11

Antara Bandung dan Jakarta

I'm home. Physically and mentally. Kalau dihitung, sudah setahun lebih saya tinggal di Bandung. Orang bilang minimal 3 bulan untuk beradaptasi. Jadi kalau sudah setahun tentunya saya sudah menyesuaikan diri dengan kota ini. Tapi coba tanyakan mengenai tempat-tempat di Bandung. Nah! Anda menanyakan pada orang yang salah. Yang saya tau hanya BIP dan Ciwalk itu pun karena jaraknya dekat. Kalau ditanya lagi tempat terjauh yang pernah dikunjungi, saya akan bangga menjawab daerah Soekarno Hatta. Itupun karena hanya satu kali naik angkot dari kosan saya dan saya cukup sering ke daerah itu karena rumah tante saya disana ha ha ha -_- Kalau tempat–tempat wisata lainnya? Yah saya hanya bisa menjelaskan seadanya. Kuper? Ah rasanya tidak, lebih tepatnya kapan saya punya waktu untuk keliling Bandung ? Dan tentunya naik apa. This public transportation thingy is kinda sucks. Ya saya kira masalah transportasi publik semuanya tahu, jadi memang lebih enak jalan-jalan dengan kendaraan pribadi.


Bandung!


Rasanya beruntung kampus saya berada di daerah Dago Utara. Semua bisa didapat di sini dengan mudah dan memang perkembangan kota Bandung mengarah ke utara. Coba saja tinggal sebulan disini dan saya yakin anda akan merasakan kemudahan. Dan karena kemudahan tersebut membuat saya konsumtif. Bagaimana tidak, apa yang saya butuh dan dan inginkan dapat dicapai hanya dengan waktu 15 menit. Berbeda dengan tempat tinggal saya di pinggiran Jakarta. Mau kesini atau kesitu rasanya malas karena panas, jauh, dan tentunya macet. Belum lagi harus naik angkutan umum yang ngetemnya naudzubillahminzalik.

But home still home. Dan tentunya saya akan selalu balik ke Jakarta. Walaupun Bandung lebih nyaman dan tidak panas tentunya. Tapi tetap saja Jakarta itu lebih hidup dan akan selalu punya banyak cerita. Dan yang lebih lagi, Jakarta punya banyak gedung bertingkat dan bajaj!!! Oh ya omong-omong soal bajaj, akhirnya saya kembali merasakan naik bajaj! Kalau dulu hampir setiap hari naik bajaj setelah pulang sekolah kalau sekarang ya berhubung Bandung tidak ada bajaj, jadi ya tidak pernah.

Though Bandung is way more comfortable, but it doesn’t have the feeling when you get struck and raining outside, and all you can do is seeing high buildings and listening to good song on the radio.


Jakarta dikala macet!