So, This Is The Feeling

Selama 20 tahun gue hidup, cuma bisa tau kalo cari uang tuh susah. Kalau nonton acara semacam Orang Pinggiran, cuma bisa meringis atau menitikan air mata. Kalau denger keluhan mamah tentang biaya kuliah yang makin mahal, cuma bisa merasa gaenak. Ya intinya cuma bisa seperti itu aja.

Sampai akhirnya, gue iseng terima tawaran jasa jadi pen-transkrip hasil wawancara. Singkat cerita gue ditawarin untuk mentranskrip hasil wawancara dari tugas akhirnya mahasiswa S2. Yaa dengan diiming-imingi honor gue terima-terima aja. Lumayan kan buat jajan, pikir gue sempit. Setelah dibriefing, dijelasin aturan dan apa yang harus dilakukan rasanya mau pingsan... Gue kira cuma bikin resume dari hasil wawancara dan ternyata lebih dari itu. Rekaman hasil wawancara betul-betul harus di translate ke dalam bentuk tulisan! Apa yang narasumber di rekaman katakan ya harus ditulis secara detail. Bahkan kalau dia tertawa, batuk, atau melakukan hal lain harus ditulis juga. Dan lebih menderitanya lagi kalau melanggar aturan-aturan, honor akan dipotong. Oh god.

Karena sudah tanda tangan MOU, mau ga mau harus dikerjakan. Dan disnilah baru kerasa susahnya cari uang. Mentranskrip ga segampang itu. Gue harus berkali-kali ngulang rekamannya, dan durasi rekaman yang satu jam lamanya minimal selesai 5 jam. Itupun kalau tidak ada istirahat. Sedangkan gue harus menyelesaikan 2 rekaman yang masing-masing berdurasi 1 jam 10menitan. Yaaa entah berapa jam yang udah gue habiskan, tapi satu yang pasti sampai lupa makan seharian. Lebih baik waktunya dipakai untuk men transkrip.
Mungkin capeknya gue ga sebanding dengan buruh tani yang hanya diupah kurang dari 15ribu per hari. Atau ga sebanding dengan usaha orang tua untuk menyekolahkan anaknya. Tapi seenggaknya, gue benar-benar merasakan susahnya untuk mendapatkan uang. Anyway, I appreciate every little penny. A lot of people out there work so hard to get some food. 

Kayaknya sudah cukup saya berkicau, sekarang saatnya saya menunggu honor pertama yang akan turun. Ah   semoga cepet sampai di tangan!

Comments

  1. it is just the same kayak gue yang kemaren dapet proyek blogging gitu odoonk, ternyata banyak aturan yang harus diikuti though it sounds easy..but i guess they will be good experiences for us ya ga? :p

    ReplyDelete
  2. di jurnalistik, transkrip semacam itu emang yang paling bener Taya. teorinya gitu. :p

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Having Academic Writing Course at LBI UI

Big Bad Wolf Jakarta (a review from a not-so-happy visitor)

Life in Leeds