Strolling Around Pasar Baru and Petak Sembilan

This January seems brighter than December,2013. Awal tahun ini, berjalan cukup mulus bahkan rejeki tak dikirapun datang pada bulan ini. Saya memenangkan paket kecantikan dari Shiseido!!! Tidak tanggung-tanggung, nilai paketnya pun sebesar 1 juta, seumur-umur baru kali ini saya menang undian dan mempunyai produk kecantikan yang high-end. Selain rejeki tak terduga, di awal tahun ini saya juga mengunjungi beberapa tempat yang menarik. Saya sih menyebutnya jalan-jalan belajar sejarah hehe. Pernah mencoba ritual tradisi masyarakat tiongkok dan diramal dengan menggunakan kertas nasib di vihara ? Saya yakin belum tentu semua orang pernah merasakannya.

Pasar Baru dan Petak Sembilan, Glodok

Berawal dari kerandoman teman saya, Dinar, yang tiba-tiba mengajak ke Pasar Baru akhirnya kita berdua pun pergi kesana. Sepertinya Pasar Baru tidak terlalu banyak berubah semenjak terakhir kali saya kesana sekitar tahun 2008. Toko-tokonya masih sama, suasananya pun masih sama, jadilah kita bernostalgia (cailaah..) Ketika sudah capek berjalan-jalan di Pasar Baru, kemudian saya dan Dinar makan siang di Bakmi Gang Kelinci. Karena kantong mahasiswa, kita pun hanya memesan semangkuk mie ayam stengah porsi seharga Rp 11.000. Rasanya ? Enak! Beda dengan mie ayam abang-abang sih ya. Perjalanan dilanjutkan dengan membuktikan lagu Titik Puspa, Gang Kelinci. Dan memang benar ada Jalan Kelinci loh! Saya kira itu cuma karangan lagu biasa dan ternyata benar adanya. Setelah foto-foto di Jalan Kelinci, saya dan Dinar iseng masuk ke toko india, namanya Shalimar. Tokonya sangat kecil dan berada di deretan sekitar Bakmi Gang Kelinci. Kesan pertama memasuki toko ini adalah, aroma dupa bercampur rempah-rempah (atau dupa itu dari rempah-rempah ?) menyengat hidung. Tokonya sepi dan hanya ada saya, dinar, dan dua penjaganya. Selagi melihat-melihat barang-barang yang dijual, perasaan saya sangat tidak nyaman. Si penjaga mengikuti kita berdua kemanapun kita berjalan, yah berasa diintilin dan dikira mau mencuri kali yaa. Selain diikuti oleh si penjaga, saya juga merasa lukisan dewa dewi yang dipajang di dinding tersebut itu hidup, dan sedang mengamati saya. It was kind of scary...

Pasar Baru!
Toko tersebut nampaknya diperuntukan untuk orang india yang tinggal di Jakarta. Barang-barang yang dijual pun khas india dan beragam. Ada pernak-pernik, lukisan dan patung dewa dewi, makanan khas india, kosmetik, dll. Ada satu barang yang unik, yaitu Handsome Cream (namanya beneran handsome cream). Di penjelasannya krim ini diperuntukkan untuk kaum pria agar lebih tampan. Kemasannya biasa saja, dengan menonjolkan model laki-laki seperti iklan Top Lady. Sampai sekarang saya masih bingung, memang ada ya yang membeli nya ? Pria India mungkin..

Setelah melihat-melihat, akhirnya kita berdua keluar dari toko tersebut dan melanjutkan ke destinasi berikutnya, yaitu Petak Sembilan! Awalnya saya tidak tahu persis dimana letaknya, yang saya tahu lokasinya dekat Halte Glodok. Dengan bermodalkan peta Jakarta edisi 90an, kita berdua menyusuri jalan menuju Petak Sembilan dan akhirnya kita pun sampai depan persis Vihara Dharma Bakti, one of the oldest temple in Jakarta (satu list tempat pun tercoret :'')




Untuk kedua kalinya, saya merasa tidak nyaman masuk ke tempat yang cukup asing bagi saya sendiri. Jadi ketika saya mengunjungi vihara tersebut, banyak warga sekitar yang berada di lingkungan vihara tersebut. Dan saya merasa sedang dilihat oleh mereka. Hm, mungkin karena saya orang luar kali ya.. Tapi pada akhirnya kita berdua masuk ke dalam vihara tersebut. Terdapat tiga bangunan vihara dalam satu lokasi, tiap bangunan pun mempunyai dewa yang berbeda. Nah kebetulan saya memasuki vihara yang didalamnya terdapat Dewi Kwan Im.



Ini pertama kalinya saya mengunjungi sebuah vihara. Dan yah saya cukup takjub dengan bangunan yang didirikan 400 tahun lalu. Di dalamnya (tentunya) wangi dupa, terdapat pula beberapa patung dewa - dewi. Selain itu ada juga tempat untuk menancapkan dupa dan melakukan ritual membakar uang. Selagi melihat-lihat vihara, tiba-tiba bapak penjaga vihara datang dan menawarkan saya untuk mencoba ritual yang biasa dilakukan disini. Karena saya pikir ini hanya coba-coba jadi saya mengiyakannya. Ritual diawali dengan menggoyangkan tumpukkan stik (mirip kaya stik es krim walls cuman lebih panjang) yang bertuliskan angka sembari memperkenalkan diri kepada dewa yang dituju dan menanyakan pertanyaan yang akan dijawab oleh sang dewa. Setelah menggoyangkan stik tersebut, akan keluar satu dari sekian banyak stik. Kemudian stik tersebut ditancapkan di tempat dupa dan sekali lagi bertanya mengenai pertanyaan yang ingin dijawab. Setelah itu saya diharuskan melempar sepasang kayu bulat. Selesai! Tapi sayang ritual kali ini gagal, kata sang penjaga dewa sedang menertawakan saya karena saya tidak serius (hmm......) Saya pun mengulanginya lagi, dan kali ini berhasil. Stik bambu menunjukkan angka 8, dan itulah jawaban pertanyaan saya. Si bapak penjaga vihara kemudian menunjukkan saya kotak yang berisikan kertas nasib. Karena saya mendapat nomor 8, si Bapak pun membuka loker bernomor 8 dan memberikan kertas yang berisikan ramalan nasib saya. Sebenernya saya agak kurang mengerti apa artinya, tapi yasudahlah sekedar pengalaman. Setelah mencoba ritual tersebut, saya berkeliling dan si bapak pun menjelaskan mengenai vihara ini. Dan karena sudah sore, akhirnya saya dan Dinar pun pamit pulang.


Setelah keluar dari lingkungan vihara, saya bertanya pada dinar:
"Gue dosa gak ya ?" 

Related Articles

0 comments:

Post a Comment

Powered by Blogger.