Movie Review: The Lunchbox

Beberapa hari lalu saya menonton film The Lunchbox. Awalnya saya mengetahui film ini ketika sedang iseng mencari film non-hollywood yang bagus, setelah membaca sinopsisnya tanpa pikir panjang saya segera mengunduhnya (thanks to piracy and torrent :p). Hasilnya ? Di luar dugaan, salah satu film favorit saya!


Mulanya saya kira film ini adalah tipikal film bollywood-yang-penuh-dengan-lagu2-dan-tarian. Setelah melihat scene awal, dugaan saya terpatahkan. Film ini cita rasa Hollywood dengan wajah India. Meski begitu sang sutradara mengambil tema yang unik dan simpel, tidak butuh banyak karakter atau plot yang pelik untuk menyampaikan maksud film ini dan juga karakter dari tokoh-tokohnya.

Bermula dari Ila (Nimrat Kaur) yang membuat bekal makan siang untuk suaminya. Rantang makan siang tersebut kemudian diantar oleh seorang kurir ke lokasi kantor suaminya. Namun, sayang rantang tersebut sampai kepada orang yang salah, Mr.Fernandes (Irrfan Khan). Menyadari rantang tersebut sampai ke orang yang tidak tepat, keesokkannya Ila menaruh surat di dalam kotak makannya. Cerita berlanjut dengan komunikasi keduanya melalui perantara surat dan makan siang. Ila yang seorang ibu rumah tangga menceritakan keluh kesahnya tentang rumah tangganya yang terasa datar dan sampai suatu ketika ia mengetahui suaminya selingkuh. Hampir sama dengan kehidupan Ila yang monoton, Mr.Fernandes pun begitu. Setelah ditinggal istrinya, hidupnya hanya mengenai dua hal rumah dan kantor. Saking monotonnya, Mr.Fernandes pun tidak sadar kalau dia bertambah tua.

Tipikal film saya. Simpel dan ngena. Melihat keseharian Mr.Fernandes pun seperti melihat ayah saya ketika beliau dengan wajah lelah setelah menerjang kemacetan Jakarta dan mendengar deru Metromini yang memekakan telinga, sepulang dari kerja. Namun bedanya ayah saya selalu tersenyum ketika sampai rumah.

Kemudian saya jadi berpikir, film, The Lunchbox seperti peringatan terhadap midlife crisis yang suatu waktu akan saya hadapi. Bagaimana nanti kehidupan rumah tangga saya? Bagaimana kalau seburuk-buruknya kehidupan saya sama seperti Ila? *membayangkannya saja sudah bikin takut* Bagaimana nasib anak-anak saya ?

dan sejuta kata bagaimana terngiang di otak saya.

Related Articles

0 comments:

Post a Comment

Powered by Blogger.