Social Media

November 14, 2017

Paris: Too Crowded to Enjoy its Beauty

seeing eiffel tower from trocadero

Bulan September lalu, saya berkesempatan melakukan Eurotrip selama 13 hari. Rute Eurotrip dimulai dari Perancis dan di akhiri di Belanda, dengan rincian Perancis-Italia-Hungaria-Ceko-Belgia-Belanda. Perancis menjadi destinasi pertama dikarenakan harga tiketnya yang murah dari Manchester serta visanya mudah didapat! Yes, indeed. Untuk visa turis saya hanya butuh waktu sekitar 4 hari dari pengajuan sampai paspornya dikirim kembali ke rumah, tapi dengan catatan, saya applynya dari Inggris ya ketika masih jadi student.

Di Perancis, saya hanya mengunjungi Paris saja selama tiga hari. Impresi hari pertama saya terhadap Paris tidak terlalu baik. Sebelum menginjakan kaki di kota ini, saya membayangkan Paris yang seperti digambarkan dalam film Midnight in Paris, dimana Marion Cotillard berjalan berdua dengan Owen Wilson di tepi sungai Seine. Tetapi ketika saya keluar dari bandara Charles de Guille dan melanjutkan perjalanan menuju hotel dengan menggunakan Metro, saya dikagetkan dengan suara peminta-minta yang berteriak cukup kencang. How on earth a street beggar could be in the airport metro ? pikir saya saat itu.

Setelah sampai di central station, saya melanjutkan perjalanan menuju hotel di daerah Porte de Clignancourt dengan menggunakan Metro 4. Sebagai catatan tambahan, saya tidak menyarankan untuk bermalam di hotel di daerah Metro 4 dikarenakan daerahnya tidak begitu aman. Lingkungan tempat hotel saya menginap cukup kumuh dan setiap saya berjalan, orang-orang dengan langsung menatap saya dari atas sampai bawah padahal saat itu masih sore hari. Hal ini diperkuat dengan perkataan dari mahasiswa Indonesia yang sedang menyelesaikan studi di Paris. Ketika sedang berada di Arc de Triomphe, saya bertemu dengan dua orang mahasiswa Indonesia dan mereka menjelaskan bahwa daerah tempat tinggal saya merupakan daerah dengan tingkat kriminalitas yang tinggi. No wonder!

Hari Pertama (Arc de Triomphe - Eiffel Tower)

Setelah istirahat sejenak di hotel, saya menuju Arc de Triomphe. Keluar dari stasiun, saya sudah disuguhi dengan lautan manusia yang siap dengan kameranya. Mood saya saat itu langsung drop melihat banyaknya orang dan diperparah dengan keteledoran saya tidak membawa kamera. Alhasil saya menunggu saja teman-teman saya yang antusias berfoto dengan latar Arc de Triomphe. Untungnya tidak menghabiskan waktu lama berfoto, kami kemudian memutuskan naik ke atas Arc de Triomphe untuk menikmati senja diatas monumen sembari melihat menara Eiffel dari kejauhan. Untuk sampai ke atas Arc de Triomphe, kira-kira dibutuhkan waktu sekitar 15-20 menit. dikarenakan antrian yang cukup panjang. I can assure you that the queue is that long! Yaa kaya ngantri sembako. Kemudian, kita harus menaiki 284 anak tangga. Untuk ukuran saya yang jarang berolahraga, capeknya luar biasa :') Tapi untungnya pemandangan dari atas monumen cukup membuat mata saya kembali segar. Bentuk kota Paris yang grid dengan Arc de Triomphe menjadi vocal pointnya membuat saya takjub. Belum lagi, pemandangan senja dari atas Arc de Triomphe makes the atmosphere even more beautiful. Those early city planners were smart as hell to design such a city.

Selesai menikmati menikmati pemandangan kota Paris, saya melanjutkan perjalanan menuju Eiffel Tower. Untuk menikmati Eiffel ada dua cara, yang pertama melihatnya dari dekat dan kedua dari kejauhan. Jika memilih dari dekat, dengan menggunakan Metro kita turun di stasiun Ber Hakiem atau menggunakan RER C turun di Champ de Mars. Sebaliknya, jika ingin melihat dari kejauhan bisa menggunakan metro dan turun di Trocadero. Malam itu saya memutuskan untuk turun di Ber Hakiem. Berjalan sekitar 10 menit akhirnya saya sampai di depan kelap-kelipnya eiffeil di malam hari.

Kesan pertama melihat eiffeil, "oke bagus, boleh lah" tapi setelah berjalan menuju taman Champ de Mars saya serasa berada di Monas................. No, I'm not kidding. It's crowded and there are a lot of street vendors offering food, beverages, and souvenirs. Entah kenapa saat itu, saya merasa biasa saja dengan menara eiffel. Mungkin karena melihatnya dari dekat, atau mungkin karena terlalu ramai, atau karena badan saya saat itu sudah capek, saya tidak terlalu antusias. Pun saat itu sudah pukul 21.30, akhirnya saya memutuskan untuk pulang.

                                                           
                                                                       taken from this

Hari Kedua (Notre-Dame Cathedral-Louvre-Trocadero Pont Alexandre III-Les Invalides)

Hari kedua saya mood saya sudah lebih baik. Pagi-pagi saya sudah bersiap untuk berkeliling kota Paris. Notre-Dame Cathedral menjadi tujuan pertama saya. Pukul 8.30 pagi saya sudah mengantri untuk masuk ke dalam Notre-Dame Cathedral. Tidak butuh waktu lama untuk mengantri. Di dalam katedral, suasana sangat ramai karena saat itu sedang dilakukan ibadah minggu. Selama sekitar 10 menit saya meluangkan waktu untuk melihat tata cara ibadah di salah satu gereja katolik terkenal dunia. Ada perasaan kagum dan menjadi pengalaman tersendiri bagi saya.

Selanjutnya saya berkeliling gereja menikmati bentuk arsitekturnya yang gothic. Banyak terdapat patung dan ukiran yang merepresentasikan berbagai figur. Yang membuat saya cukup takjub adalah ukirannya yang sangat detail, dan proses pembangunannya yang diawali dengan struktur kayu sampai akhirnya menghasilkan bangunan yang megah.

notre dame cathedral paris

inside notre dame cathedral


Sudah puas berkeliling Notre-Dame saya melanjutkan perjalanan ke Louvre museum. Dibandingkan dengan bangunan segitiga tersebut, saya lebih menikmati perjalanan dan pemandangan menuju ke Louvre museum. Suasana yang tenang serta pemandangan sungai dan dedaunan yang mulai menguning membuat saya merasa lebih tentram jika dibandingkan dengan pemandangan antrian manusia yang ingin masuk kedalam Louvre. Saya memutuskan untuk tidak masuk kedalam Louvre karena antriannya yang sangat panjang dan harga tiket yang...ehm...cukup menguras dompet saya yang pas-pasan. Apesnya juga, saat itu saya tidak tahu kalau ternyata kita bisa masuk ke Louvre dengan gratis. Jika kita punya BRP (British Residence Permit) kita tidak perlu bayar, bahkan teman saya bilang bisa masuk ke museum-museum lain dengan gratis. Ah, sayangnya saya baru tahu info tersebut setelah pulang dari Paris :(

louvre museum paris

louvre museum area

painting in paris

seine river paris

Tempat ketiga, yakni Trocadero, dari itinerary hari itu merupakan highlight dari perjalanan saya di Paris. Saya bisa menikmati kokohnya Eiffel dari kejauhan dengan  santai. Sembari melihat Eiffel, saya juga menikmati sekelompok dancer yang sedang berlatih dance di pelataran tempat saya duduk. Tak jauh dari situ, ada sekumpulan street performer yang merupakan imigran Timur Tengah yang sedang melakukan pertunjukan drama musical. Selama kurang lebih 20 menit mereka menampilkan drama musical yang mengocok perut! I can tell you that they are so funny and what I appriciate is they can gather over 50 people from different nations to sit together watching their show.

Pont Alexandre III dan Les Invalides menjadi atraksi penutup perjalanan saya di Paris. Selama berjalan di jembatan Pont Alexandre, mata saya disuguhkan dengan berbagai pasangan yang sedang melakukan pemotretan pre-wedding. I'm wondering if the couple must have high level of confidence since everyone is watching them. Bahkan salah satu Asian couple yang sedang difoto sempat diganggu. Well, probably it is better to have a photoshoot outside peak hour, when not many people walking down the street.

eiffel tower from trocadero palace

street dancer at trocadero palace

pont alexander III

...and as for me, maybe I will come back again to really feel the beauty of this city :)

1 comment :

  1. someday, i will go there... :) langsung suka sama blognya ini. ijin follow :)


    http://sweetofamalia.com/

    ReplyDelete